
HARI PERTAMA
Pada hari Jum’at, 13 Desember 2019 siswa siswi kelas VIII melaksanakan Study Tour ke Pulau Dewata. Pukul 07.05 peserta study tour berkumpul untuk diberi pengarahan serta doa bersama terlebih dahulu. Dan pada pukul 07.10 peserta study tour bertolak dari SMP N 2 Cangkringan.
Rombongan sampai di rumah makan pada pukul 10.45. Disini rombongan dipersilahkan untuk makan siang dan sholat berjamaah.
Pada pukul 18.40 rombongan kembali singgah di rumah makan untuk makan malam dan sholat berjamaah.
Perjalanan kembali dilanjutkan dan sampai Pelabuhan Ketapang pada pukul 23.00. Rombongan turun dari bus dan antri untuk naik kapal. Dan alhamdulillah pada pukul 23.20 semua rombongan bisa naik kapal untuk menyebrang ke Pelabuhan Gilimanuk.
Setelah sampai Pelabuhan Gilimanuk, rombongan kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan menuju RM Kurnia Village untuk mandi serta sarapan.
HARI KEDUA
1. PURA TANAH LOT
Pura Tanah Lot (Bahasa Bali: ᬧᬸᬭᬢᬦᬄᬮᭀᬢ᭄) adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Disini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam.
Sejarah
Sejarah Pura Tanah Lot Bali Indonesia berdasarkan legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari pulau Jawa ke pulau Bali.
Pada saat itu yang berkuasa di pulau Bali adalah Raja Dalem Waturenggong. Beliau sangat menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya, sehingga penyebaran agama Hindu berhasil sampai ke pelosok – pelosok desa yang ada di pulau Bali.
Dalam sejarah Tanah Lot, dikisahkan Dang Hyang Nirartha, melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali, maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi dari sinar tersebut dan tibalah beliau di sebuah pantai di desa yang bernama desa Beraban Tabanan.
Pada saat itu desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti, menganut aliran monotheisme.
Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo yang pada awalnya berada di daratan.
Dengan berbagai cara Bendesa Beraban ingin mengusir keberadaan Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.
Menurut sejarah Tanah Lot berdasarkan legenda Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang yang berada di tengah lautan.
Semenjak peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti mengakui kesaktian yang dimiliki Dang Hyang Nirartha dengan menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.
Dikisahkan di sejarah Tanah Lot, sebelum meninggalkan desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.
Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali. Semenjak hal ini rutin dilakukan oleh penduduk desa Beraban, kesejahteraan penduduk sangat meningkat pesat dengan hasil panen pertanian yang melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.
(sumber : wikipedia)
Rombongan tiba di Pura Tanah Lot pada pukul 08.47. Sebelum memasuki pintu masuk, terlebih dahulu rombongan melakukan foto bersama. Deretan toko dengan aneka ragam pakaian, pernak pernik, ukiran dll benar-benar memanjakan mata.
Setelah memasuki kawasan pantai, siswa siswi asyik ber swafoto sambil menikmati pemandangan seputar Pura. Pura Tanah Lot merupakan pura yang disakralkan. Konon pura ini digunakan untuk melakukan pemujaan kepada dewa-dewa laut. Pada bagian bawang batu karang besar, ada ular yang berwarna belang hitam putih. Oleh masyarakat lokal, ular ini dianggap sebagai ular suci yang menjaga pura. Ular suci ini jinak dan kata sang pawang jika kita mengucapkan keinginan-keinginan kita saat berada didepan ular suci tersebut, keinginan kita bisa terkabul.
Pura Tanah Lot tidak hanya ramai oleh pengunjung domestik, tetapi juga turis mancanegara. Terbukti saat rombongan tiba, banyak turis mancanegara yang mengunjungi salah satu ikon wisata Bali satu ini. Rombongan diberi waktu 1 jam untuk menikmati keindahan Pura Tanah Lot sebelum kembali lagi ke bus.
2. WISATA SANGEH (MONKEY FOREST)
Sangeh adalah sebuah tempat pariwisata di pulau Bali yang terletak di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.
Sangeh terkenal karena merupakan sebuah desa di mana monyet-monyet (beruk) berkeliaran dengan bebas dan dikeramatkan oleh penduduk setempat di sebuah hutan. Di tengah hutan ada pula sebuah pura yang bernama Pura Bukit Sari.Pura ini dibangun oleh Kerajaan Mengwi dan sekarang diserahkan ke penduduk setempat. Monyet di sini memiliki raja dan konon memiliki tiga wilayah kerajaan.
Sejarah
Menurut legenda, adanya Pura Bukit Sari di hutan ini diceritakan secara mitologis dalam Lontar Babad Mengwi. Diceritakan dalam babad tersebut, putri Ida Batara di Gunung Agung berkeinginan untuk disungsung di Kerajaan Mengwi. Atas kehendak dia maka hutan pala yang ada di Gunung Agung tempat putri Ida Batara Gunung Agung bermukim pindah secara misterius pada waktu malam.
Ketika perjalanan baru sampai di Sangeh, telanjur ada penduduk yang melihat perjalanan tersebut. Hal ini konon yang menyebabkan hutan pala tersebut tidak bisa berjalan lagi menuju Mengwi dan berhenti di Desa Sangeh sekarang. Konon putra angkat Raja Mengwi yang pertama I Gusti Agung Putu yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan menemukan bekas bangunan pelinggih.
Putra angkat Raja Mengwi tersebut bernama Anak Agung Ketut Karangasem. Atas penemuan tersebut Cokorda Sakti Blambangan memerintahkan untuk membangun kembali pura tersebut dan diberi nama Pura Bukit Sari. Yang dipuja di pura tersebut adalah Ida Batara Gunung Agung dan Batara Melanting. Pura Besakih di lereng Gunung Agung itu tergolong Pura Purusa atau sebagai jiwa dari Pulau Bali.
(sumber : wikipedia).
Rombongan tiba di Sangeh 11.05. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi menyambut kedatangan rombongan. Seperti yang kita tahu, Sangeh merupakan tempat suci yang menjadi habitat ratusan monyet. Tetapi kita tidak perlu khawatir, karena monyet disini semua jinak. Jadi tidak perlu takut jika ingin mengambil foto atau video.
Area hutan tempat habitat monyet ini cukup luas dan dikenal dengan hutan homogen yang terdiri dari berbagai macam tanaman. Adapun tanaman yang paling terkenal yaitu Pala Lanang dan Wadon. Pohon Pala ini konon terdiri dari 2 jenis yang tumbuh menjadi 1.
Selain Pala, di Sangeh juga terdapat Pura yang bernama Pura Bukit Sari. Pura Bukit Sari adalah peninggalan pada abad 17. Pura ini merupakan bukti kuat sejarah kerajaan mengwi pada masa lalu.
Rombongan sangat beruntung karena saat berkunjung, masyarakat lokal sedang mengadakan upacara suci sehingga rombongan bisa menyaksikan secara langsung.
3. RUMAH MAKAN DEWATA
Daai Sangeh, rombongan menuju Rumah Makan Dewa untuk makan siang dan shalat berjamaah. Tidak lupa rombongan dipersilahkan untuk membeli oleh-oleh yang ada di lantai 1 dan 2. Karena selain sebagai rumah makan, berbagai pernak-pernik, makanan, pakaian, lukisan tersedia disini.
4. PANTAI KUTA
Pantai Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak kecamatan Kuta, sebelah selatan Kota Denpasar, Bali, Indonesia. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal tahun 1970-an. Pantai Kuta sering pula disebut sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach) sebagai lawan dari pantai Sanur. Selain itu, Lapangan Udara I Gusti Ngurah Rai terletak tidak jauh dari Kuta.
Sejarah
Sebelum menjadi objek wisata, Kuta merupakan sebuah pelabuhan dagang tempat produk lokal diperdagangkan kepada pembeli dari luar Bali. Pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang Denmark, datang ke Bali dan mendirikan basis perdagangan di Kuta. Ia ahli bernegosiasi sehingga dirinya terkenal di antara raja-raja Bali dan Belanda.[1]
Selanjutnya, Hugh Mahbett menerbitkan sebuah buku berjudul “Praise to Kuta” yang berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas akomodasi wisata. Tujuannya untuk mengantisipasi ledakan wisatawan yang berkunjung ke Bali. Buku itu kemudian menginspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran dan tempat hiburan.[1]
(sumber : wikipedia)
Rombongan tiba di Pantai Kuta sekitar pukul 16.00. Rombongan dimanjakan dengan pantai pasir putih yang sangat panjang. Sebagai salah satu tempat wisata di pulau Bali, mungkin bisa dikatakan bahwa Pantai Kuta adalah jantung wisata pulau Bali. Karena hanya di Pantai Kuta terdapat banyak sekali turis mancanegara. Peserta didik sangat bersemangat bermain-main di Pantai Kuta. Ditambah lagi dengan ombak yang cukup menantang. Banyak turis mancanegara yang menjadikan Pantai Kuta sebagai tempat untuk surfing.
Rombongan menikmati Pantai Kuta sampai sunset tiba. Setelah menikmati panorama sunset, rombongan menuju hotel untuk makan malam dan istirahat.
HARI KETIGA
1. AIR TERJUN BLANGSINGA
Air Terjun Blangsinga terletak di Jl. Raya Blangsinga, Saba, Kec. Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Air terjun Blangsinga memiliki debit air yang besar. Walaupun tidak tinggi, besarnya debit air menimbulkan percikan indah di dasar lembah.
Gemuruh suara air membawa pesan damai alam yang sering orang-orang cari. Ditambah dengan keindahan tebing-tebing batu di sekeliling menambah kesan alami tempat ini.
Keindahannya inilah yang menarik perhatian wisatawan yang hobi dengan fotografi untuk mengabadikannya. Banyak titik foto menarik yang bisa di eksplor oleh wisatawan di tempat ini. Seperti di atas air terjun, tebing tingkat ke dua, dan di bawah air terjun.
Di bawah air terjun terdapat sebuah cekungan yang terbentuk akibat limpahan air. Cekungan ini menyerupai kolam dengan pancuran air berdebit sangat tinggi di belakangnya. Jernihnya air ini sering dijadikan wisatawan untuk mandi setelah letih berjalan mencapai tempat ini.
Namun jika musim hujan tiba, wisatawan tidak dianjurkan mandi karena debit air akan meningkat.
Wisatawan yang tidak ingin mengambil resiko bahaya di bawah air terjun bisa memanfaatkan pemandian. Pemandian sudah tersedia di sekitar air terjun Blangsinga. Pemandian yang ada di sini sudah disediakan pancuran untuk lebih memudahkan wisatawan mandi. Pemandian ini sering digunakan juga oleh masyarakat sekitar untuk mengambil air di pagi dan sore hari.
(sumber : https://www.nativeindonesia.com/air-terjun-blangsinga/)
2. KRISNA
Krisna merupakan pusat oleh-oleh terlengkap di Bali. Disini rombongan bisa memilih oleh-oleh mulai dari kaos, baju, gantungan kunci dan tidak lupa oleh-oleh khas Bali, pie susu. Tempat yang nyaman dan luas menjadikan rombongan betah untuk berlama-lama disini.
Setelah selesai berbelanja, rombongan makan siang dan sholat berjamaah.
3. PANTAI PANDAWA
Pantai Pandawa adalah salah satu kawasan wisata di area Kuta selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini terletak di balik perbukitan dan sering disebut sebagai Pantai Rahasia (Secret Beach). Di sekitar pantai ini terdapat dua tebing yang sangat besar yang pada salah satu sisinya dipahat lima patung Pandawa[1] dan Kunti. Keenam patung tersebut secarara berurutan (dari posisi tertinggi) diberi penejasan nama Dewi Kunti, Dharma Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.
Selain untuk tujuan wisata dan olahraga air, pantai ini juga dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut karena kontur pantai yang landai dan ombak yang tidak sampai ke garis pantai. Cukup banyak wisatawan yang melakukan paralayang dari Bukit Timbis hingga ke Pantai Pandawa.
(sumber : wikipedia)
Rombongan memasuki kawasan Pantai Pandawa sekitar pukul 15.10. Jalan menuju kawasan pantai sangatlah indah. Baru memasuki kawasan atas yaitu akses jalan menuju pantai pandawa, rombongan bisa menyaksikan pesona alam pantai yang terhampar indah di depan mata, dari kejauhan terlihat sejumlah wisatawan yang terbang dengan ikut rekreasi paragliding dari ketinggian bukit Kutuh.
Pantainya berpasir putih bersih, ombaknya tenang dengan airnya yang jernih, sehingga memungkinkan rombongan untuk berenang, bermain kano, berjemur atau bersantai di bawah payung pantai sambil menyaksikan pemandangan indah alam laut dan merasakan udara segar pantai yang jauh dari polusi, tebing-tebing bukit yang mengelilingi pantai ini juga menambah pesonanya. Objek wisata pantai di pulau Bali ini tidak hanya populer dan ideal bagi orang dewasa tetapi juga cocok untuk anak-anak anda saat liburan keluarga. Kawasan pantai yang luas, batu karang ukuran besar, spot foto yang menarik, benar-benar memuaskan rombongan yang memiliki hobi fotografi.
Rombongan berada di Pantai Pandawa sampai senja untuk menikmati sunset.
Setelah itu, rombongan menuju bangunan sebelah pantai untuk melihat pertunjukan Tari Kecak.
Pemandangan dari area pertunjukan sangatlah menakjubkan. Rombongan bisa melihat seluruh area pantai dari atas. Udara yang segar, ditambah dengan sunset dengan langit berwarna merah keunguan.
Tari Kecak dimulai pada pukul 18.00 dengan durasi sekitar 1 jam. Tari Kecak menceritakan tentang kisah Rama dan Shinta. Bagian pertunjukan paling menarik adalah saat Hanoman dibakar dengan jerami membentuk lingkaran.
Setelah menikmati pertunjukan Tari Kecak, rombongan kembali menuju hotel.
HARI KEEMPAT
Kegiatan diawali dengan packing koper serta barang-barang bawaan karena pagi itu juga rombongan checkout dari hotel. Setelah packing selesai dan kamar hotel sudah rapi, rombongan sarapan bersama di hotel.
Perjalanan hari keempat hanya menuju satu objek wisata yaitu Monumen Braja Sandhi.
Monumen Bajra Sandhi atau disebut juga Monumen Perjuangan Rakyat Bali adalah monumen perjuangan rakyat Baliyang terletak di Renon, Kota Denpasar, Bali. Monumen ini menempati areal yang sangat luas, ada beberapa lapangan bola di sekelilingnya.
Maksud dan Tujuan
Monumen Bajra Sandhi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan serta merupakan lambang pesemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Provinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Provinsi Bali Niti Mandala Renon persisnya di Lapangan Puputan Renon.
Monumen ini dikenal dengan nama “Bajra Sandhi” karena bentuknya menyerupai bajra atau genta yang digunakan oleh para Pendeta Hindu dalam mengucapkan Weda (mantra) pada saat upacara keagamaan. Monumen ini dibangun pada tahun 1987, diresmikan oleh Presiden Megawati Sukarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003. Tujuan pembangunan monumen ini adalah untuk mengabadikan jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali, sekaligus menggali, memelihara, mengembangkan serta melestarikan budaya Bali untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal melangkah maju menapak dunia yang semakin sarat dengan tantangan dan hambatan.
(sumber : wikipedia)
Rombongan tiba di Monumen Braja Sandhi sekitar pukul 08.10. Dari lapangan sudah terlihat dengan jelas bangunan megah yang menjulang tinggi. Sebelum memasuki Monumen Braja Sandhi, terlebih dahulu rombongan mengambil foto bersama.
Rombongan dipersilahkan memasuki area oleh pemandu. Dan bagi rombongan yang ingin naik ke menara paling atas, dipersilahkan untuk menaiki tangga yang berbentuk spiral.
Banyak spot foto yang menarik di kawasan Braja Sandhi sehingga rombongan puas mengambil foto.
Setelah kurang lebih 1 jam di area monumen, rombongan kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Yogyakarta.
HARI KELIMA
Alhamdulillah perjalanan menuju Yogyakarta berjalan dengan lancar. Rombongan tiba di SMP N 2 Cangkringan lebih awal 6 jam dari jadwal. Jam 3 pagi rombongan sudah berada di SMP N 2 Cangkringan dengan keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apa.
Inilah sedikit cerita tentang Study Tour Kelas VIII SMP Negeri 2 Cangkringan ke Bali. Tentunya semua hal selama berada di perjalanan maupun di Bali sangat berkesan dihati peserta didik maupun pendamping. Semoga perjalanan di Bali memberi kenangan yang indah untuk semuanya 🙂

